karangan pendek tentang banjir di kampungku
Pertanyaan
2 Jawaban
-
1. Jawaban RRani1
BanjirMusim hujan yang melanda negerimembuat beberapa daerah yang sudah berhari-hari diguyur hujan terkena bencana banjir. Luapan air sungai dan ketidakmampuan gorong-gorong maupun selokan karena tersumbat sampah membuat banjir yang tak kunjungsurut hingga hari ini. Selain banjir, daerah perbukitan juga mengalami longsor sehingga banyak jalan yang terpaksa ditutup karena khawatir membahayakan masyarakat yang melintasi jalan tersebut.Bedasarkan penuturan seorang pelajar yang baru saja pulang ke kampung halamannya, hujan lebat yang tidak kunjung berhenti menyebabkan ia dan keluarganya harus mengemas barang-barang yang penting dan berharga sebagai persediaan dan terpaksa pindah karena rumahnyaterendam banjir. Mereka terpaksa dipindahkan oleh pasukan penyelamat bencana dengan menggunakan sampan dan bot. Mereka bersyukur karena para penduduk kampung dievakuasi dengan selamat. Penduduk sempat merasa sedih karena melihat seluruh kampungnya telah terendam air. Mereka hanya mampu berdoa agar banjir yang menenggelamkanrumah mereka segera surut sehingga mereka dapat kembali ke rumah mereka masing-masing dan menjalani aktivitas seperti biasa. -
2. Jawaban Anonyme
Banjir Melanda Kampungku
Indah adalah saudara sepupu Dimas. ia tinggal di kampung dekat pantai. jarak antara rumahnya dengan laut hanya sekitar satu kilometer. daerah ini rawan banjir. selain banjir karena hujan, kampung itu juga sering dilanda banjir karena air laut pasang.Seminggu yang lalu, kampung Indah baru saja dilanda banjir cukup besar. oleh karena itu, Dimas dan orangtuanya menengok keluarga Indah. disana, mereka berbincang-bincang.
“Bagaimana terjadinya banjir itu?” Tanya Dimas pada Indah.
“Begini… senin pekan lalu, sejak jam empat sore, hujan turun. lama-kelamaan, hujan makin deras disertai suara halilintar. saat itu, aku sudah menduga pasti akan banjir. dugaanku benar. Jam setengah tujuh malam, air mulai mengenangi halaman rumah. hujan tak reda juga. jam tujuh malam, air sudah mulai masuk ke dalam rumah. ayah, ibu dan aku sudah mulai memindahkan barang-barang ke atas meja atau tempat tidur. Di luar, orang-orang berteriak, ‘banjir, banjir, banjir.’ Kentongan pun dipukul bertalu-talu. suasana benar-benar gaduh.
Sementara itu, hujan tetap saja deras. air di dalam rumah makin tinggi saja. setengah jam kemudian, air sudah setinggi meja dan tempat tidur. kami mulai panik. aduh, bagaimana ini? dalam keadaan panik, ayah memerintah untuk membawa barang yang sangat berharga saja ke kantor kelurahan. kebetulan, kantor kelurahan berlokasi di tempat yang tinggi.
Ternyata, di kelurahan sudah banyak orang. ibu-ibu dan anak-anak kecil berkumpul di tempat itu. keadaannya penuh sesak dan hiruk-pikuk.
Jam delapan malam, hujan mulai reda. tinggi air di dalam rumah kurang lebih 80 cm. terpaksa malam itu, kami tidur di kantor kelurahan. aku tak bisa tidur. dua hari lamanya air baru surut. setelah surut, barulah kami membersihkan rumah dan membereskan barang-barang.” Begitulah penjelasan Indah kepada Dimas.